Di Asia, di mana banjir musiman sering terjadi, muncul mitos dan kekhawatiran bahwa mobil listrik (EV) lebih berisiko dibandingkan mobil bensin saat terendam air. Faktanya, EV modern dirancang dengan standar insulasi dan penyegelan yang sangat ketat untuk melindungi baterai tegangan tinggi dari air.
Baterai EV diposisikan di bawah lantai mobil dalam wadah kedap air yang kokoh, seringkali memiliki rating kedap air yang lebih tinggi daripada mesin ICE. Sistem secara otomatis memutus daya jika terjadi kerusakan atau korsleting, meminimalkan risiko sengatan listrik.
Risiko utama bagi EV maupun mobil bensin saat banjir adalah kerusakan permanen pada sistem kelistrikan dan elektronik sensitif saat terendam terlalu lama. Air yang masuk ke baterai atau mesin dapat menyebabkan perbaikan yang sangat mahal, tetapi risiko kebakaran atau ledakan pada EV tidak lebih tinggi dari mobil bensin.
Untuk mengatasi kekhawatiran konsumen, produsen EV di Asia perlu secara aktif mengedukasi publik tentang fitur keselamatan dan pengujian ketahanan air yang ketat yang dilakukan pada baterai mereka. Saran utamanya tetap sama: jangan pernah melewati genangan air yang terlalu dalam.
Mitos bahwa EV lebih berisiko saat banjir di Asia tidaklah benar, karena baterai EV disegel dan diisolasi secara ketat dari air, dengan sistem pemutus daya otomatis. Risiko utama adalah kerusakan elektronik yang mahal, sama seperti mobil bensin.

