Setelah hantaman keras pandemi COVID-19, beberapa negara Asia menunjukkan resiliensi ekonomi yang luar biasa dan mencatatkan pemulihan tercepat dibandingkan rekan-rekan mereka. Kecepatan pemulihan ini umumnya didorong oleh kombinasi keberhasilan program vaksinasi yang masif, stimulus fiskal yang tepat sasaran, dan ketergantungan pada sektor manufaktur dan ekspor teknologi yang permintaannya melonjak selama masa pembatasan global. Vietnam, Korea Selatan, dan Taiwan sering disebut-sebut sebagai contoh utama pemulihan yang didorong oleh perdagangan luar negeri.
Selain ekspor, adaptasi cepat terhadap digitalisasi juga memainkan peran kunci. Peningkatan investasi dalam infrastruktur digital dan adopsi e-commerce yang meluas memungkinkan bisnis untuk tetap beroperasi dan bahkan berkembang, mengurangi dampak kerugian yang diderita sektor jasa. Kebijakan pemerintah yang fokus pada pembukaan kembali perbatasan juga mempercepat kembalinya aktivitas ekonomi ke tingkat pra-pandemi.
Namun, laju pemulihan yang tidak merata ini menimbulkan kekhawatiran tentang kesenjangan regional. Sementara beberapa titik panas manufaktur bangkit dengan cepat, negara-negara yang sangat bergantung pada pariwisata, seperti Thailand dan Sri Lanka, masih berjuang untuk kembali ke tingkat pendapatan sebelumnya.
Ke depan, tantangan utama adalah bagaimana mempertahankan momentum pertumbuhan di tengah meningkatnya inflasi global dan potensi perlambatan ekonomi di mitra dagang utama mereka seperti Amerika Serikat dan Eropa. Konsolidasi fiskal sambil mendukung sektor riil adalah kunci untuk stabilitas jangka menengah.
Pemulihan ekonomi pascapandemi di Asia terjadi tidak merata, dipimpin oleh negara-negara eksportir teknologi seperti Vietnam dan Taiwan berkat digitalisasi dan stimulus yang efektif, namun kawasan ini tetap menghadapi tantangan kesenjangan regional dan ancaman inflasi global.

